Koperasi Konsumen Menjadi Tipe Koperasi Yang Terkena Dampak Paling Parah Di Indonesia Akibat Pandemi Covid-19
ABSTRAK
Objektif : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil perbandingan Perputaran Uang Koperasi Indonesi, Tipe Koperasi Indonesia, dan Aktivitas Koperasi Indonesia selama Covid-19 dengan beberapa Koperasi di Dunia.
Teknik Analisa : Teknik Analisa yang digunakan adalah Teknik penelitian analisis konten.
Sumber Data : Kajian pustaka mencakup informasi yang diperoleh dari sumber yang dipilih melalui Materi World Cooperative Monitor 2020, website DEKOPIN, web Kementerian Koperasi dan UMKM RI, web Kementerian Keuangan, web Republika.co.id, web Peraturan Pemerintah.
Metode Penelitian : Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian komparatif, dimana tinjauan pustaka yang digunakan untuk membandingkan keadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau dua waktu yang berbeda (Sugiyono, 2014:54). Adapun penerapan penelitian komparatif pada penelitian ini digunakan untuk mengetahui perbandingan Tipe Koperasi Indonesia, Aktivitas Koperasi Indonesia, dan Perputaran Uang Koperasi Indonesia selama Covid-19 dengan beberapa Koperasi di Dunia. Tinjauan pustaka yang digunakan untuk mengukur dan menganalisis keberadaan, makna, dan hubungan kata, tema, atau konsep tertentu.
Hasil : Berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan, Organisasi Koperasi di Dunia memiliki berbagai tipe seperti produsen, konsumen, dan pertangguhan. Tipe organisasi koperasi dilihat dari Laporan World Cooperative Monitor 2020 pada 300 koperasi terbesar dalam tipe organisasi yang paling banyak adalah tipe organisasi produksi, sedangkan tipe organisasi koperasi di Indonesia adalah koperasi konsumen. Aktivitas ekonomi yang dijalankan Indonesia juga sama dengan aktivitas koperasi yang ada di Dunia. Menurut Laporan World Cooperative Monitor 2020 pada 300 koperasi terbesar aktivitas yang paling banyak dilakukan adalah Agriculture and Food Industries. Pada saat ini, dunia sedang mengalami pandemic Covid-19, dimana omset koperasi di dunia semakin menurun termasuk Koperasi di Indonesia.
Kesimpulan : Dimasa pandemic Covid-19 ini, koperasi yang ada di dunia banyak yang terkena dampak, yaitu seperti penurunan omset yang disebabkan kurangnya modal koperasi, permintaan semakin menurun, serta distribusi terhambat.
I. Perputaran Uang
Top 300 berdasarkan peringkat omset tahun ini (referensi data tahun 2018) menyajikan total keseluruhan sebesar 2.146 miliar USD dimana sektor dengan organisasi yang paling banyak didaftar adalah pertanian (104 perusahaan) dan asuransi (101 perusahaan). Sektor perdagangan grosir dan eceran terutama terdiri dari koperasi pengecer (33 perusahaan) dan Koperasi konsumen (21 perusahaan) merupakan sektor ekonomi terbesar ketiga diikuti oleh sektor jasa keuangan (21 perusahaan). Dilihat dari jenis koperasi, sebagian besar dari Top 300 adalah koperasi produsen (133 perusahaan) yang mewakili koperasi pertanian dan koperasi pengecer, diikuti oleh koperasi mutual (83 perusahaan) dan koperasi konsumen / pengguna (65 perusahaan) yang sebagian besar terdiri dari koperasi konsumen dan keuangan. Sementara Koperasi layanan mewakili sebagian lainnya. 13 dari 300 teratas adalah non koperasi dikuasai oleh koperasi, hanya sejumlah kecil koperasi pekerja (3 perusahaan) dan koperasi multipihak (2 perusahaan) yang masuk dalam peringkat 300 teratas berdasarkan omset. Karena omset diambil dengan nilai absolutnya, sebagian besar koperasi dan reksa dana besar dalam peringkat 300 teratas berasal dari negara-negara industri paling maju seperti, Amerika Serikat (74 perusahaan). Namun, Top 300 berdasarkan rasio omset terhadap PDB per kapita menunjukkan lanskap yang berbeda. Ketika kita mengoreksi biasanya dalam menghitung pengaruh berbagai tingkat konteks ekonomi nasional, dominasi sektor pertanian dan asuransi sedikit berkurang dan sektor jasa menjadi lebih terlihat (sektor pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan dengan 7 perusahaan dibandingkan dengan 2 perusahaan di Top 300 berdasarkan omzet dan layanan lainnya dengan 6 perusahaan dibandingkan dengan 2 perusahaan di 300 teratas menurut omset). Ini Perubahan juga menyiratkan bahwa koperasi pekerja menjadi lebih terlihat dalam 300 PDB teratas per kapita (10 perusahaan). Khususnya, omset 300 teratas atas PDB per kapita memungkinkan lebih banyak negara untuk masuk dalam peringkat, seperti Kolombia, Kosta Rika, Uruguay, Turki, dan Kenya, yang merupakan satu-satunya kasus Afrika di WCM 2020. Ini juga menjelaskan lebih banyak tentang beberapa negara-negara dengan jumlah koperasi besar yang signifikan yang kurang terlihat di Top 300 berdasarkan omset, seperti Spanyol, Kolombia, Brasil, Argentina dan India.
Analisa, Koperasi di Indonesia memiliki organisasi yang bernamakan DEKOPIN (Dewan Koperasi Indonesia), dimana koperasi di Indonesia terdiri dari koperasi jasa (3.885 koperasi), koperasi konsumen (74.468 koperasi), koperasi pemasaran (2.950 koperasi), koperasi produsen (26.549 koperasi), dan koperasi simpan pinjam (18.491 koperasi).
Di akhir tahun 2019 lalu, sekitar 64 juta UMKM dan 25 juta anggota Koperasi memberikan kontribusi sebesar 66,2% terhadap PDB atau sekitar Rp 2.400 triliun.
Dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN) untuk menanggulangi dampak Covid-19 Pemerintah mengumumkan, dari total anggaran Rp 677 triliun, dukungan kepada UMKM sebesar Rp 123,46 triliun untuk subsidi bunga, penempatan dana untuk restrukturisasi, dan mendukung modal untuk UMKM yang pinjamannya di bawah Rp 10 miliar. Dukungan kepada dunia usaha berbentuk insentif pajak sebesar Rp 120,61 triliun serta dukungan bidang pembiayaan dan korporasi sebesar Rp 44,57 triliun.
II. Tipe Organisasi
Berdasarkan negara-negara di dunia yang koperasinya top 300 terbaik dimasa pandemic Covid-19 ini memiliki tipe koperasi antara lain: producer terdapat 133 koperasi (44,3%), mutual terdapat 83 koperasi (27,7%), consumer/user terdapat 65 koperasi (21,7%), worker terdapat 3 koperasi (1%), multistakeholder terdapat 2 koperasi (0,7%), producer + consumer/user terdapat 1 koperasi (0,03%), dan non coop sebanyak 13 koperasi (4,3%).
Analisa, menurut PP No. 60 Tahun 1959 jenis koperasi di Indonesia antara lain sebagai berikut: koperasi desa, koperasi pertanian, koperasi peternakan, koperasi perikanan, koperasi kerajinan/industri, koperasi simpan pinjam, dan koperasi konsumsi. Koperasi menjadi salah satu yang terdampak pandemi Covid-19 terutama yang bergerak pada bidang kebutuhan simpan pinjam. Sebab, saat ini banyak koperasi yang melaporkan kesulitan operasional. Sehingga, keberadaan koperasi masih perlu upaya yang sungguh-sungguh agar mampu beradaptasi dengan tuntutan lingkungan dunia usaha dan lingkungan kehidupan dan kesejahteraan para anggotanya. Tercatat untuk koperasi konsumen merupakan segmen koperasi yang terdampak paling parah atau sekitar 45 persen dari total sejumlah 781 unit, layanan koperasi sebanyak 158 unit (8 persen), dan produsen koperasi terdampak 152 unit (7 persen).
III. Aktivitas Ekonomi
Berdasarkan negara-negara di dunia yang koperasinya top 300 terbaik dimasa pandemic Covid-19 ini memiliki aktivitas ekonomi koperasi antara lain: pada bagian pertanian dan industri makan terdapat 104 koperasi (34,7%), pertanggungan atau asuransi terdapat 101 koperasi (33,7%), grosir terdapat 57 koperasi (19,0%), keuangan lainnya terdapat 21 koperasi (7%), keperluan terdapat 7 koperasi (2,3%), Industri terdapat 3 koperasi (1%), lain-lainnya terdapat 2 koperasi (0,7%), perikanan terdapat 2 koperasi (0,7%), pendidikan, kesehatan dan pekerjaan sosial tedapat 2 koperasi (0,7%), serta ada perumahan terdapat 1 koperasi (0,3%).
Analisa, Jika dilihat dari aktivitas koperasi Indonesia, koperasi di Indonesia juga menjalankan aktivitas yang hampir sama dengan koperasi di dunia, seperti pertanian dan industri makanan, keuangan atau simpan pinjam, keperluan untuk hidup sehari-hari, Pendidikan, Kesehatan, dan pekerja sosial, serta perumahan. Pertanian merupakan salah satu sektor yang terdampak pandemi Covid-19. Pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, dan perkebunan, menurun sebesar 1,17% (YoY); dalam hal produksi tanaman pangan menurun hingga 10,31%, sementara jasa pertanian hingga -1,39%. Penurunan tersebut disebabkan oleh kekurangan tenaga kerja musiman di tingkat petani, karena berlakunya pembatasan pergerakan antar daerah, hambatan distribusi input (pupuk, bibit, dsb.) dan penurunan daya beli masyarakat karena banyaknya PHK. Banyak usaha sektor Food and Baverage (F&B) yang terpaksa tutup, sehingga menyebabkan anjloknya harga komoditas pangan dan rusaknya beberapa komoditas pertanian. Untuk itu, diperlukan adanya dukungan dari pemerintah dalam melindungi dan mensejahterakan petani, dan koperasi dipilih sebagai jalan untuk mewujudkan hal tersebut.
Source:
DEKOPIN. (2020) DEKOPIN. [Online] Available from: https://dekopin.coop. [Accessed: 26 Januari 2021]
Kementerian Koperasi dan UMKM RI. (2018). Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia. [Online] Available from: http://www.depkop.go.id/uploads/news/1564979879_Arah%20Kebijakan%20dan%20Program%20Pengembangan%20KUMKM%20(Menuju%20KUMKM%202020-2024).pdf. [Accessed: 26 Januari 2021]
Kementerian Keuangan RI. (2020) Media Keuangan. [Online] Available from: https://www.kemenkeu.go.id/media/16655/mk-november-2020-up.pdf. [Accessed: 25 Januari 2021]
Republika.co.id. (2018) 1.785 Koperasi di Indonesia terdampak Covid-19. [Online] Available from: https://republika.co.id/berita/qa1u4z383/1785-koperasi-di-indonesia-terdampak-covid19. [Accessed: 25 Januari 2021]
Depkop. (2018) Program Korporasi Petani Siap Menjadi Penyangga Ekonomi Nasional Dimasa Pandemi Covid-19. [Online] Available From: http://www.depkop.go.id/read/program-korporasi-petani-siap-menjadi-penyangga-ekonomi-nasional-di-masa-pandemi-covid-19 [Accessed: 27 Januari 2021]
Peraturan Pemerintah. (2017) Peraturan Pemerintsh Republik Indonesia. [Online] Available from: https://jdih.setkab.go.id/UPUdoc/2155/pp0601959.pdf. [Accessed: 28 Januari 2021].
Komentar
Posting Komentar